Mataharinews.com-Medan. Suasana Mboru Ate Tedeh semakin semarak ketika Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menunjukkan kebolehannya memainkan alat musik tradisional Karo, kulcapi, bersama musisi Jacky Raju Sembiring, Sabtu (7/11/2026) Malam.
Penampilan tersebut menjadi salah satu momen menarik dalam rangkaian acara penabalan Merga Ginting Suka kepada Rico Waas dan Beru Sembiring Pelawi kepada istrinya, Airin Rico Waas, di Gedung Serbaguna PKK Kota Medan.
Dengan santai, Rico memetik dawai kulcapi mengikuti irama musik, berkolaborasi dengan Jacky Raju Sembiring. Keduanya tampak kompak memainkan instrumen khas Karo tersebut di hadapan para undangan. Aksi ini pun menambah warna hiburan dalam perayaan adat yang berlangsung penuh keakraban.
Tak hanya bermain musik, Rico dan Airin juga tampil bersama di panggung. Rico membawakan lagu Mbring Manggis, sedangkan Airin menyanyikan lagu Cantik Manis. Keduanya turut menari, mengundang antusiasme para tamu yang hadir.
Kemeriahan semakin terasa dengan penampilan sejumlah tarian tradisional Karo serta hiburan dari penyanyi Karo, di antaranya Averiana Barus dan Antha Pryma Ginting bersama musisi lainnya. Perpaduan musik, lagu, dan tarian membuat suasana semakin hidup sekaligus mengajak para undangan menikmati kekayaan seni budaya Karo.
Kulcapi yang dimainkan Rico merupakan alat musik petik tradisional masyarakat Karo berbentuk menyerupai gitar kecil. Instrumen berdawai ini memiliki peran penting dalam musik tradisional Karo, terutama sebagai pembawa melodi.
Di balik kemeriahan hiburan tersebut, acara Mboru Ate Tedeh juga menjadi momentum penting bagi Rico dan Airin. Rico resmi ditabalkan sebagai Merga Ginting Suka, bebere Tarigan Sibero, kempu Karo-Karo Surbakti. Sementara Airin menerima Beru Sembiring Pelawi, bebere Karo Sekali Sukapiring, kempu Peranginangin. Keduanya juga menerima pakaian adat Karo sebagai bagian dari prosesi penghormatan.
Ketua Panitia Muhammad Edison Ginting mengatakan, Mboru Ate Tedeh tidak hanya menjadi ajang silaturahmi masyarakat Karo, tetapi juga momentum melestarikan adat dan budaya sekaligus mempererat persaudaraan di Kota Medan.
Ia menjelaskan, prosesi penabalan merga telah dipersiapkan sejak setahun lalu atas prakarsa sejumlah tokoh dan sesepuh masyarakat Karo. Pemberian Merga Ginting Suka kepada Rico Waas juga memiliki latar belakang historis. Kakeknya, Letnan Jacob Waas, pernah menjadi ajudan Pahlawan Nasional Letjen Djamin Ginting. Selain itu, terdapat kedekatan emosional antara kedua keluarga.
“Acara hari ini kita lakukan dari kita, untuk kita, sebagai upaya memajukan seni dan budaya, merajut silaturahmi, serta mempererat komunikasi di antara kita semua. Kita ingin mewujudkan Medan untuk Semua yang dapat dirasakan seluruh masyarakat adat di Kota Medan,” ujar Edison.
Sementara itu, pemrakarsa sekaligus tokoh masyarakat Karo, Prof. Dr. Runtung Sitepu, menegaskan pemberian merga kepada Rico dan Airin merupakan bentuk penghormatan adat dan tidak mengandung unsur politik. Ia juga menyampaikan ucapan selamat atas penabalan tersebut.
Tokoh masyarakat Karo Randiman Tarigan turut menyampaikan kebanggaannya atas terlaksananya prosesi adat tersebut. Ia mengajak masyarakat mendukung kebijakan pembangunan yang baik di bawah kepemimpinan Wali Kota Medan.
“Selamat kepada Bapak Wali Kota. Kami orang Karo merasa bangga. Saya mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung kebijakan yang baik di bawah kepemimpinan Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas,” ujarnya.
Acara tersebut turut dihadiri Anggota DPD RI Sumatera Utara Dr. Badikenita br. Sitepu, Bupati Karo Brigjen Pol. (Purn.) Dr. Antonius Ginting beserta istri, Raja Urung Sukapiring Datuk Rustam Karo Sekali Sukapiring, Wakil Ketua DPRD Deli Serdang Kuzu Serasi Wilson Tarigan, anggota DPRD Kota Medan Jusup Ginting Suka dan H. Rajudin Sagala, unsur Forkopimda, serta sejumlah tokoh adat, agama, masyarakat dan jajaran pemerintah daerah.
Perpaduan prosesi adat dan pertunjukan seni menjadikan Mboru Ate Tedeh bukan sekadar perayaan penabalan merga, tetapi juga panggung kebudayaan yang menghadirkan hiburan sekaligus mempererat kecintaan masyarakat terhadap tradisi Karo.
