Matahari News
Ekonomi

PT RPN-BPDP-Ditjenbun Tekankan Dampak Nyata Pelatihan bagi Pekebun Sawit

Mataharinews.com-Medan. Keberhasilan pelatihan pekebun kelapa sawit tidak cukup diukur dari jumlah peserta atau sertifikat yang diberikan. Ukuran utamanya adalah perubahan praktik di kebun yang mampu meningkatkan produktivitas, mengefisienkan biaya produksi, dan mendorong peningkatan pendapatan pekebun.

Pesan tersebut disampaikan Dr. Apuk Ismane, Ketua Tim Kerja Kelembagaan dan Ketenagaan Pusat Pelatihan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, dalam Pelatihan Pembuatan dan Aplikasi Pupuk Organik bagi pekebun Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

“Tujuan akhir pelatihan bukan sekadar mendapatkan sertifikat, tetapi bagaimana pekebun naik kelas dalam kemampuan teknis dan pengelolaan usaha sehingga produktivitas serta pendapatan mereka meningkat,” tegasnya dalam keterangannya, Senin (19/10/2026).

Menurut Apuk, pelatihan harus membekali pekebun dengan keterampilan yang dapat langsung diterapkan untuk menjawab persoalan di lapangan. Salah satunya melalui pemanfaatan bahan organik untuk menjaga kesuburan tanah sekaligus membuka peluang efisiensi biaya produksi.

Pelatihan yang diselenggarakan PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) ini berlangsung pada 12–17 Oktober 2026 di Medan. Kegiatan dalam Angkatan 1, 2, 3, dan 4 tersebut diikuti 130 pekebun dari Kabupaten Simalungun sebagai bagian dari Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2026.

Selain memperoleh materi dan praktik pembuatan pupuk organik, peserta juga mendapat kesempatan melakukan kunjungan lapangan ke KPUD Lestari di Kabupaten Simalungun untuk memperluas wawasan mengenai penerapan praktik pengelolaan perkebunan.

Pupuk Organik Dukung Efisiensi dan Kesuburan Tanah

Kepala Divisi Produksi PT RPN, Dr. Heri Santoso, menekankan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) menjadi faktor penting dalam membangun perkebunan yang produktif dan berkelanjutan. Pekebun perlu memahami teknik budidaya yang tepat, termasuk pengelolaan kesuburan tanah untuk menjaga pertumbuhan dan produktivitas tanaman dalam jangka panjang.

Pupuk organik dapat membantu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah. Pemanfaatan bahan organik yang tersedia di sekitar perkebunan juga berpotensi mengurangi limbah yang tidak termanfaatkan serta menekan sebagian kebutuhan input produksi.

Namun, penggunaannya perlu memperhatikan kualitas bahan baku, proses pengolahan, tingkat kematangan pupuk, dan ketepatan aplikasi. Pupuk organik juga tidak serta-merta menggantikan seluruh kebutuhan pupuk anorganik. Keduanya perlu digunakan secara terpadu sesuai kondisi tanah, umur tanaman, dan kebutuhan unsur hara.

Pengawas Mutu Hasil Pertanian Dinas Pertanian Kabupaten Simalungun, Ian Persada Bangun, mengingatkan pentingnya perubahan pola pikir pekebun agar pemupukan dilakukan secara tepat dan berimbang.

“Kita mengubah mindset dulu. Kita pahami seperti apa penggunaan pupuk yang baik, berimbang, dan benar antara pupuk organik dan anorganik,” ujarnya.

Pemahaman tersebut diharapkan membantu pekebun menentukan strategi pemupukan berdasarkan kebutuhan tanaman dan kondisi lahan, bukan hanya mengikuti kebiasaan yang selama ini dilakukan.

Dampak Pelatihan Harus Meluas ke Kelompok Tani

Apuk menegaskan, pengembangan SDM perkebunan harus menghasilkan pekebun yang kompeten, mandiri, produktif, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Karena itu, penerapan keterampilan setelah pelatihan menjadi bagian penting dalam mengukur keberhasilan program.

Peningkatan produktivitas juga perlu didukung pemeliharaan tanaman, pengelolaan panen, dan tata kelola kebun yang baik. Dengan pendekatan tersebut, hasil usaha tidak hanya bergantung pada pemupukan, tetapi pada penerapan praktik budidaya secara menyeluruh.

Selain meningkatkan kemampuan individu, pekebun didorong memperkuat kelompok tani dan berbagi pengetahuan dengan sesama anggota. Kelembagaan yang kuat dapat memperluas akses terhadap informasi, teknologi, pendampingan, dan peluang kerja sama usaha.

Melalui pelatihan ini, 130 peserta diharapkan mampu menerapkan keterampilan secara mandiri sekaligus menyebarluaskan pengetahuan kepada pekebun lain di lingkungan masing-masing. Dengan demikian, manfaat program dapat melampaui peserta yang mengikuti pelatihan secara langsung.

Pada akhirnya, keberhasilan pelatihan SDM perkebunan harus terlihat dari perubahan nyata di kebun, mulai dari pemupukan yang lebih tepat, kesuburan tanah yang terjaga, hingga penggunaan input yang lebih efisien. Perubahan tersebut diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan produktivitas dan pendapatan pekebun serta memperkuat keberlanjutan perkebunan kelapa sawit rakyat.

Related posts

Bakeout Tambah Gerai Bakery di Medan

admin

Angkat Potensi Ekonomi, Wagubsu Surya Dorong Garuda Buka Kembali Penerbangan Kualanamu-Binaka Nias

Yosua

Starbucks Bakal Keluarkan Uang Rp 5,37 Triliun Tutup 250 Gerai

Yosua

Leave a Comment