PT TPL Kembangkan Andaliman, 20.000 Bibit Sudah Dibagi ke 100 Petani di Tobasa

Direktur Mulia Nauli serta petinggi PT Toba Pulp Lestaris Tbk. Lainnya bersama Ketua PWI H Hermansjah SE dan lainnya diabadikan usai menyerahkan bingkisan dan santunan kepada para anak yakim. (Foto: mar)

 

Medan – PT Toba Pulp Lestari (Toba Pulp) Tbk. tidak lagi sekedar mengingatkan pada bubur kertas, seperti olahan inti dari perusahaan berbahan baku kayu ekaliptus (Eucalyptus sp). Tetapi bisa bercerita tentang “merica batak” alias Andaliman, sebuah tanaman khas wilayah Toba yang kegunaannya untuk bumbu penyedap makanan. Juga bisa berkembang sampai perihal partisipasinya terhadap program pemerintah membangun Danau Toba yang diprogram dalam kemasan menjadi Monaco Of Asia.

Cerita tentang pabrik bubur kertas yang selama bertahun-tahun menjadi umpatan sebagian masyarakat karena sebaran “aroma tak enak” yang membuat tidak nyaman, telah berangsur sirna seiring inovasi yang dilakukan untuk mengurangi kekuatan bau menjengkelkan tersebut. Bahkan, menurut Direktur Toba Pulp Mulia Nauli di sela acara berbuka puasa bersama pengurus PWI Sumut dan kalangan pers di Medan, Kamis (7/6/2018), pada pertengahan tahun 2019 bau tersebut tidak akan tercium lagi.

Persoalannya, selama ini Toba Pulp dalam memasak bubur kertas menggunakan “kuali” dengan pembakaran pada tingkat panas mencapai 100 s/d 120 derajat celcius. Oleh sebab itu, bubur kertas yang direbus dengan tingkat panas seperti itu, didihannya akan menjadi uap dan uap itulah yang menyebarkan bau busuk. Ke depan nanti, teknik perebusan bubur kertas itu akan diubah menjadi tingkat panas sebatas 90 derajat, sehingga didihannya tidak lagi menciptakan uap yang berbau busuk.

Menurut Mulia Nauli, saat ini secara berangsur invosi teknik perebusan bubur kertas itu dilakukan. Secara bertahan tungku-tungku lama diganti dengan tungku-tungku baru yagn memungkinkan cara perebutan bisa dilakukan dengan tingkat panas 80-90 derajat.

“Kita sudah inden barangnya dari Swedia, mudah-mudahan pada pertengahan tahun 2019 sudah berfungsi, jadi operasi pabrik Toba Pulp tidak menyebarkan bau tak sedap lagi,” ungkap Mulia Nauli pada acara yang berlangsung di Gedung Uniland.

Karenanya, Mulia Nauli lebih bersemangat bercerita tentang sebuah tanaman khas yang hanya tumbuh di kawasan Toba, yaitu andaliman, yang kurang terlestarikan budidayanya. Padahal andaliman adalah salah satu unsur bumbu masak yang dapat membuat masakan menjadi lebih enak dan nikmat.

Andaliman memiliki aroma jeruk yang lembut namun “menggigit” sehingga menimbulkan sensasi kelu atau mati rasa di lidah, meskipun tidak sepedas cabai atau lada. Selain pada masakan Batak, penggunaan andaliman sebagai bumbu masak juga dikenal pada masakan Asia Timur dan Asia Selatan.

Andaliman berbentuk bulat kecil dan bergerombol, hampir menyerupai buah pala sehingga kerap pula disebut sebagai “merica batak”. Andaliman asli tanaman yang hanya tumbuh di Toba, tetapi tidak banyak masyarakat yang membudidayakannya. Padahal kegunaannya sebagai bumbu masak yang membuat makanan menjadi enak, sudah sangat dikenal sehingga produk tanaman inipun memiliki nilai jual tinggi.

Nilai kegunaan tinggi bagi masyarakat itu membuat Toba Pulp mengambil peran dalam melestarikan dan mengembangkan tanaman endemic di Tapanuli tersebut. Belum lama ini, perusahaan bubur kertas (pulp) yang ramah lingkungan di Dusun Sosorladang, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) itu menyerahkan bantuan untuk menghasilkan pohon andaliman (Zanthoxylum) kepada seorang penggiat lingkungan di Toba Samosir, Marandus Sirait.

Bantuan sebesar Rp200 juta itu sejak awal 2017 digunakan untuk mengembangkan bibit andaliman di Taman Eden 100 oleh Marandus Sirait, pria penerima Kalpataru dari Presiden RI tersebut. Diharapkan, andaliman dapat menjadi tanaman yang dapat memberikan peluang besar dan pangsa pasar tanaman lokal. Marandus Sirait pun mentarget 100.000 bibit andaliman kelak dapat dibagikan kepada warga masyarakat sebagai langkah untuk pengembangannya.

“Sejauh ini telah kita serahkan 20.000 bibit andaliman untuk dibagikan kepada 100 petani warga masyarakat binaan, pada delapan kelompok tani di Toba Samosir. Jumlah bibit akan terus bertambah, begitu pula dengan jumlah petani penerimanya,” jelas Mulia.

Lain andaliman lain pula pengembangan Danau Toba. Toba Pulp telah dengan nyata mendukung program Danau Toba Monaco Of Asia. Mulia menegaskan, Toba Pulp akan selalu mendukung program apapun yang dijalankan pemerintah, apalagi dalam hal memajukan destinasi wisata di seputaran Danau Toba menuju Monaco Of Asia.

“Toba Pulp tetap selalu mendukung program memajukan Danau Toba dan tidak mungkin melakukan pengrusakan ekosistem yang ada, karena Toba Pulp adalah bagian dari Danau Toba dalam menjaga ekosistem hutan dan alam, yang juga ikut berperan dalam membangunnya,” tegas Mulia Nauli lagi.

Acara itu berlangsung hingga makan bersama seusai sholat magrib berjamaah, diakhiri dengan penyerahan bingkisan dan santunan kepada sejumlah anak yatim. Sebelumnya, turut menyampaikan kata sambutan Ketua PWI Sumut H Hermansyah SE, sedangkan tausyiah jelang berbuka disampaikan oleh ustadz Majid. (mar)

Recommended For You


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *