Pers Harus Filter Pemberitaan Agar Tidak Sangat Seram Melebihi yang Terjadi

Medan- Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut H Hermansjah SE menegaskan, sepanjang pengamatan selama ini tidak ada media massa maupun personal wartawan yang benar-benar netral dalam pemberitaan mengenai kegiatan Pilkada, khususnya di Sumatera Utara.

“Karena media massa juga kental dengan aspek bisnis, dan bisa menyeret kepentingan tim pasangan calon (Paslon),” ujarnya saat tampil sebagai pembicara pada seminar bertajuk “Pilkada Damai dalam Bingkai Media” di gedung Pasca Sarjana UMSU Jalan Denai Medan, Jumat (23/03/2018).

Seminar dalam rangka memeriahkan Hari Pers Nasional (HPN) tahun 2018 itu diselenggarakan atas kerjasama Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) dengan Persatuan Wartawan Indonesia Sumatera Utara (PWI Sumut). Pembukaan dilakukan oleh Rektor UMSU Dr Agussani MAP, sementara tampil sebagai pembicara selain Ketua PWI Sumut H Hermansjah SE juga Ketua KPU Sumut Mulia Banurea S.Ag dan Wakil Rektor III UMSU Dr Rudianto M.Si.

Menurut Hermansjah, kendati terkesan tidak ada yang benar-benar netral namun sejauh ini pemberitaan media massa, khususnya di Sumatera Utara, tidak ada yang melampaui batas kewaran sehingga berakibat pada gangguan kedamaian dalam suasana Pilkada. Sebab ketidaknetralan itu hanya sebatan kesan sudut pemberitaan yang lebih untuk satu pasangan calon dibanding untuk pasangan calon lainnya.

“Ya, memang tidak mungkin media menerbitkan berita harus betul-betul sama untuk semua calon,” tukasnya.

Namun demikian, ujarnya, pers memang diharuskan berlaku netral dalam pemberitaan mengenai Pilkada. Hal ini diatur dalam Surat Edaran Dewan Pers dan juga ketentuan dari PWI Pusat khusus bagi jajaran anggota PWI. Lebih dari itu, sebenarnya tanpa ada ketentuan tambahan pun, berdasarkan Undang Undang Pers dan Kode Etik Wartawan Indonesia, pers memang harus berlaku berimbang dalam setiap pemberitaan.

“Tapi perlu diingat, yaitu tadi, pers juga memiliki aspek bisnis. Jadi, memang tidak ada yang benar-benar netral. Ada juga media yang terkesan melebihkan pemberitaan calon tertentu. Tapi hingga saat ini menurut pengamatan PWI masih sebatas hal yang wajar dan belum ada pengaduan kepada Dewan Kehormatan Provinsi PWI Sumut tentang hal ini,” ujarnya.

Herman juga berharap agar masyarakat bersikap tenang dan biasa saja dalam menghadapi pelaksanaan Pilkada baik Pilgubsu maupun Pilkada Bupati/Walikota di 8 Kabupaten/Kota se-Sumut saat ini. Pengelola media massa sendiri diminta untuk tetap mematuhi aturan Kode Etik Wartawan dalam pemberitaan mengenai Pilkada. “Hindari fitnah, tidak mendramatisir keadaan, tidak berpihak dan selalu mengedepankan keberimbangan,” ujarnya.

Sementara itu kepada para pengguna media sosial (Medsos) diminta agar santun dalam membuat postingan atau menanggapi postingan-postingan status yang muncul, tidak bersitegang, apalagi sampai mencaci maki dalam bentuk ujaran kebencian. Selain berbahaya untuk persatuan dan kesatuan, ujaran kebencian bisa berujung tindak pidana.

“Pilkada jangan sampai membuat kita terpecah,” ujar ujar mengingatkan.

Sementara itu Ketua KPU Sumut Mulia Banurea S.Ag menyebutkan, tekad untuk penyelenggaraan Pilkada damai sudah dideklarasikan oleh KPU bersama dua pasangan calon Gubernur Sumatera Utara beberapa waktu lalu, yang juga dihadiri oleh kalangan pers. Karena itu ia juga berharap agar pers ikut berperan dalam menciptakan Pilkada damai dalam pemberitaan di media masing-masing.

Wakil Rektor III UMSU Dr Rudianto M.Si menyebutkan, dalam suasana Pilkada di Sumut belakangan ini memang terlihat intensitas komunikasi politik meningkat dan pesan pesan politik melimpah. Karnanya, ia berharap pers dapat sekaligus dapat menjalankan fungsi filternya agar hal itu tidak melahirkan pemberitaan yang berlebihan sehingga terkesan suasana menjadi sangat seram dari realitas fakta yang terjadi sebenarnya.

Ia mengingatkan, kita ingin bukan sekedar Pilkada damai tetapi juga berkualtias. Peran untuk menciptakan Pilkada damai dan berkualitas ini dapat dilakukan pers melalui medianya, sebab media merupakan jendela dan cermin bagi masyarakat sekaligus memfilter berita-berita yang diterima.

“Berikan berita dengan pesan-pesan yang membawa damai. Kita (pers) bisa mengkonstruksi realitas agar tidak tampak sangat seram melebihi yang terjadi,” harapnya.

Dalam seminar ini selain jajaran civitas akademika dan mahasiswa UMSU serta jajaran pengurus PWI Sumut, AJI, SMSI dan para wartawan lainnya juga dihadiri pejabat Dinas Infokom Sumut dan Kasat Intel Polrestabes Medan AKP M Sembiring. (rin)

Recommended For You

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *