MATAHARINEWS.com

Mewartakan dengan Terang Benderang

Sabtu,29 November 2014

Update05:25:26 WIB

Anda berada di sini: Nasional Politik Wiranto Sosok Calon Presiden Tak Diinginkan Amerika
Galat
  • JFolder::create: Path not in open_basedir paths

Wiranto Sosok Calon Presiden Tak Diinginkan Amerika

  • PDF

 


Catatan Akhir Pekan


Mataharinews.com, Jakarta - Bakal calon (Balon) Presiden ini, memulai kariernya di militer. Masyarakat Indonesia, sangat mengenal sosok Wiranto yang lahir di Jogjakarta 4 April 1947. Wajahnya mulai di kenal sejak menjadi ajudan Soeharto tahun 1987-1991.

Karier militer Wiranto semakin menanjak ketika tampil sebagai Kasdam Jaya, Pangdam Jaya, Pangkostrad, dan KSAD.

Selepas KSAD, ia diangkat Presiden Soeharto menjadi Pangab (sekarang Panglima TNI) pada Maret 1998. Pada masa itu terjadi pergantian pucuk kepemimpinan nasional.

Posisinya yang sangat strategis menempatkannya sebagai salah satu pemain kunci bersama Wakil Presiden B.J. Habibie. Ia tetap dipertahankan sebagai Pangab di era Presiden BJ Habibie.

Kariernya tetap bersinar setelah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tampil sebagai presiden keempat Indonesia. Ia dipercaya sebagai Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, meskipun kemudian dinonaktifkan dan mengundurkan diri. Pada 26 Agustus 2003, ia meluncurkan buku otobiografi dengan judul Bersaksi di Tengah Badai

Nah Wiranto mulai mengincar kursi presiden sejak tahun 2004, Setelah memenangi konvensi Partai Golkar atas Ketua Umum Partai Golkar Ir. Akbar Tandjung, ia melaju sebagai kandidat presiden pada 2004.

Bersama pasangan kandidat wakil presiden Salahuddin Wahid, langkahnya terganjal pada babak pertama karena menempati urutan ketiga dalam pemilihan umum presiden 2004

Walau gagal, ia tetap bersemangat untuk terus maju. Setelah Pemilu Legislatif 2009, tepatnya pada 1 Mei 2009, Wiranto bersama Jusuf Kalla (Capres Partai Golkar), mengumumkan pencalonannya sebagai pasangan capres-cawapres yakni Jusuf Kalla sebagai capres dan Wiranto sebagai cawapres yang diusung Partai Golkar dan Partai Hanura.

Pasangan ini juga menjadi pasangan yang pertama mendaftar di KPU. Pasangan JK-Wiranto mendapat nomor urut tiga dan disingkat menjadi JK-WIN.

Sebagai Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat pada periode 2006-2009, dia kembali terpilih untuk masa jabatan yang kedua (2010-2015).

Kendatipun pemilihan presiden Republik Indonesia masih tahun 2014, maka diperkirakan untuk pemilihan mendatang sosok Wiranto akan muncul.

 

Namun, langkah Wiranto untuk maju memimpin bangsa ini, agaknya masih menghadapi tantangan yang cukup besar. Dari Awal pemerintah Amerika serikat, tidak menyetujui Wiranto untuk maju sbegai Presiden Republik Indonesia dengan dalih pelanggaran HAM di Timor-Timur (Timor Leste)

Kendatipun ketika itu, tahun 2004 Duta Besar Amerika untuk Indonesia, Ralp Boyce seperti yang ditulis The Jakarta Post mengatakan, bahwa pemerintah Amerika, bersedia bekerja sama dengan siapa saja yang menjadi pemenang dalam pemilihan presiden Indonesia”

Tapi, apa yang dikatakan Dubes Amerika itu, hanya “lips service” saja. Bocoran yang dimunculkan oleh pihak Wikileaks bahwa Amerika benar-benar tidak menginginkan Jenderal TNI (Purn) Wiranto untuk menjadi presiden. Itulah sebabnya dari tahun 2004 hingga 2009 keinginan Wiranto tak terkabul.

Amerika, tak akan melepaskan pengaruhnya di Indonesia. Karena itu, pemilihan presiden mendatang tahun 2014 campur tangan Amerika masih mendominasi. Ibarat angin kita dapat merasakan “getaran” itu, tapi sulit untuk dibuktikan.

Oleh sebab itu, kedepan, untuk menjadi negara yang besar. Berdiri diatas kedua telapak kaki kita sendiri, bukan berkiblat kepada Negara lain. Maka kita harus melihat bahwa pemimpin seperti Wiranto, mungkin cocok untuk kondisi ssperti sekarang ini. Secara otomatis, Wiranto tak akan berkiblat ke Amerika, ia akan menunjukkan jati dirinya sebagai seorang kepala Negara yang pernah “diterlantar”kan Amerika.

Untuk itu, Wiranto akan mencalonkan diri lagi, ia akan berhadapan dengan kekuatan loby-loby Amerika yang didukung dana serta pengaruh yang kuat terhadap lembaga swasta dan pemerintah. Jikalau rakyat Indonesia cerdas, maka pengaruh terhadap asing itu akan dilawan dengan memenangkan Wiranto. Kita tunggu. (Mn)