‘Mulung Sampah’, KPA Sumut Jaga Kelestarian Alam Sibayak

Medan- Guna menjaga kelestarian Gunung Sibayak, puluhan pendaki Sumatera Utara dari berbagai Komunitas Pencinta Alam (KPA) yang ada di Sumut melakukan ‘Mulung Sampah Sibayak’ pada Minggu (7/1) kemarin.

Aksi tersebut merupakan aksi kedua yang dilakukan, dimana sebelumnya juga pernah dilakukan pada bulan Agustus 2017 lalu.

Kordinator Aksi, Eko Manurung mengatakan, selain menjaga kelestarian Gunung Sibayak, kegiatan tersebut juga bertujuan untuk menyatukan dan mempererat tali silaturahmi antar KPA yang ada melalui kegiatan positif bersama.

“Jadi tujuan utama dari aksi mulung sampah sibayak ini adalah untuk menyatukan visi dan misi antar KPA yang ada melalui kegiatan positif untuk kelestarian alam,” sebut Eko kepada wartawan di Medan, Senin (8/1).

Selain itu juga, sambung Eko, melalui kegiatan tersebut mereka ingin mengkampanyekan kepada seluruh orang yang mendaki Gunung Sibayak ini agar membawa kembali turun sampah yang bawa, baik itu sampah bekas logistik (makanan/minuman) ataupun jenis sampah lainnya.

“Gunung inikan bukan tempat sampah, jadi kita harap kepada seluruh pendaki Sibayak ini agar membawa kembali turun sampahnya. Baik itu sampah bekas logistik, tali plastik bekas mengikat tenda, dan sampah-sampah lainnya,” jelas Eko seraya bergurau dengan mengatakan bahkan kalau perlu sampah masyarakat yang dibawa ke atas Gunung Sibayak juga dibawa kembali turun.

Kemudian lagi, Arman Doels, salah satu pendaki tertua yang turut serta dalam aksi ‘Mulung Sampah Sibayak’ menambahkan, apa yang mereka lakukan ini dapat menjadi tamparan kecil bagi pemerintah yang kerap melakukan pengutipan retribusi kepada para pendaki Gunung Sibayak.

Pasalnya, menurut Arman, baik itu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Karo yang mengutip Rp. 4000 perorang ataupun Dinas Kehutanan Provsu melalui UPT Tahura yang mengutip Rp. 10.000 perorang sehingga total kutipan bagi setiap orang pendaki Rp. 14.000, dinilai lalai dan melakukan pembiaran terkait sampah yang berserak di Gunung Sibayak.

“Kegiatan ini, juga sebagai bentuk rasa kekecewaan kami terhadap sistem pengelolaan wisata yang dilakukan pemerintah yang hanya kerap mencari keuntungan tanpa memikirkan kelestarian di Gunung Sibayak dengan lalai dan melakukan pembiaran terhadap sampah yang ada,” jelasnya.

Oleh karenanya, Arman pun berharap kedepannya Pemerintah terkait dapat melalukan pembenahan sistem pengelolaan wisata Gunung Sibayak melalui kegiatan aksi ‘Mulung Sampah Sibayak’ yang telah dua kali dilakukan oleh lintas KPA Sumut.

Namun sayangnya, terkait retribusi yang dilakukan pihak Dinas Kehutanan Provsu melalui UPT Balai Tahura ataupun Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kab. Karo tak dapat ditemui ataupun dikonfirmasi terkait sampah yang kerap berserakan di lokasi Gunung Sibayak

Sementara itu, salah seorang pemilik warung Posko Lestari Sibayak, Ahmad memberi apresiasi atas apa yang telah dilakukan para pemuda dari lintas KPA tersebut. Ia pun berharap agar kegiatan tersebut dapat menjadi contoh bagi para pendaki lainnya yang mendaki Gunung Sibayak.

“Saya selaku pemilik warung Posko Lestari Sibayak ini, tentu mengapresiasi apa yang mereka lakukan ini ya. Karena selain turut menjaga kelestarian alam Gunung Sibayak, para pemuda dari lintas KPA ini juga dapat menjadi contoh bagi para pendaki Gunung Sibayak lainnya agar membawa kembali turun sampah yang mereka bawa. Karena Gunung ini bukan tempat sampah,” ungkap Ahmad yang juga turut berkontribusi dalam aksi yang dilakukan tersebut. (mt1/ril)

Recommended For You


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *