Mengapa Tidak Ada Putra Batu Bara Duduk di Jajaran Pimpinan Inalum?

Foto: Jajaran Direksi Inalum beserta staf foto bersama jajaran pengurus PWI Sumut, para pimpinan media massa dan insan penerangan di penghujung acara buka puasa bersama di Hotel JW Marriott Jln. Putri Hijau Medan, Jumat 25/5/2018. (ist)

Medan – Pada acara Buka Puasa Bersama Jajaran Inalum dengan Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Sumatera Utara (PWI Sumut), Pimpinan Redaksi, Insan Pers dan Penerangan di Hotel JW Marriott Medan, Jumat (25/5/2018), Oggy Achmad Kosasih selaku Direktur Pengembangan Bisnis merangkap Direktur Pelaksana INALUM mendapat pertanyaan kritis dari antara hadirin.
Acara yang diawali kata-kata sambutan, tausyiah, berbuka, sholat magrib berjamaah dan makan malam bersama itu diisi juga dengan paparan tentang perkembangan terakhir Inalum. Oggy memaparkan, pada tanggal 27 November 2017 lalu Inalum telah ditunjuk sebagai Induk Holding Industri Pertambangan membawahi empat anggota holding masing-masing PT Antam Tbk, PT Bukit Asam Tbk, PT Timah Tbk dan 9,36% saham PT Freeport Indonesia sebagai anggota Holding.
Oggy menjelaskan tentang siapa-siapa yang menjadi pimpinan di perusahaan raksasa yang berbasis di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, Provinsi Sumatera Utara dan telah menjadi Group Holding itu. Sejak dari direksi yaitu Direktur Utama Group Holding Budi Gunadi Sadikin, Direktur Keuangan Group Holding Orias Petrus Moedak, Direktur Layanan Strategis Group Holding Ogi Prastomiyono, kemudian Direktur Pengembangan & Bisnis merangkap Direktur Pelaksana Oggy Achmad Kosasih, Direktur Produksi S.S Sijabat dan Direktur Umum & Human Capital Carry Mumbunan.
Di jajaran Dewan Komisaris ada Komisaris Utama Fajar Harry Sampurno, dengan para Komisaris masing-masing Agus Tjahajana Wirakusumah, Purbaya Yudhi Sadewa dan Muhammad Munir.
Seperti diketahui, Inalum (Indonesia Asahan Aluminium) yang awalnya merupakan PT Inalum, sebuah perusahaan patungan perusahaan swasta Jepang dengan Pemerintah Indonesia yang didirikan pada 6 Januari 1976, sejak tanggal 19 Desember 2013 telah menjadi milik Negara Indonesia sepenuhnya, sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Peralihan ini, kata Oggy bukan pengambilalihan Cuma-Cuma melainkan setelah membayar pengembalian saham para perusahaan anggota patungan.
Setelah menjadi BUMN, Inalum yang memiliki Pabrik Peleburan Aluminum besar di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara dan pembangkit listrik di Paritohan, Kabupaten Toba Samosir dengan memanfaatkan air Sungai Asahan yang bersumber dari Danau Toba, mencapai perkembangan pesat. Saat ini perusahaan ini memiliki sebanyak 2.119 orang karyawan.
Selama tahun 2017 INALUM telah membukukan laba bersih sekitar Rp 1,5 triliun atau 60% diatas target RKAP 2017 sekitar Rp 0,9 triliun. Selama tahun 2017 tersebut INALUM mampu memproduksi Aluminium batangan (ingot) sebanyak 215.192 ton dan produk Diversifikasi (Billet & Alloy) sebanyak 3.625 ton dengan penjualan Aluminium batangan (ingot) sebanyak 205.980 ton dan produk Diversifikasi (Billet & Alloy) sebanyak 1.296 ton.
“Selain itu, sebagai wujud komitmen kepedulian sosial, INALUM telah menyalurkan dana PKBL dan CSR selama tahun 2017 sekitar Rp30,4 miliar. Di samping itu, dalam melanjutkan komitmen INALUM untuk membantu permasalahan defisit energi listrik di wilayah Sumatera Utara, INALUM masih mengalokasikan sebagian dari produksi listrik sekitar 90 MW melalui PLN Sumatera Utara,” papar Oggy.
DIPERTANYAKAN
Pada sesi tanya-jawab, Anggota Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Sumut Azrin Marydha yang merupakan putera asli Kabupaten Batu Bara, mengapresiasi positif perkembangan Inalum. Apalagi bahkan kini menjadi induk holding industry pertambangan dengan pemilikan saham sebesar 65% pada perusahaan-perusahaan pertambangan besar bahkan memiliki sahan hampir 10% pada PT Freeport.
“Persoalannya, ada pertanyaan yang mengganjal dari saya sebagai putera Kabupaten Batu Bara yang merupakan basis keberadaan Inalum (selain Toba Samosir), dan ini juga saya serap dari pertanyaan-pertanyaan masyarakat Batu Bara dalam tiap berkesempatan berbincang. Mengapa tidak ada satu pun putera Batu Bara yang duduk di jajaran pimpinan (teras) Inalum? Dari Dewan Komisari sampai jajaran direksi, tidak ada satu pun representasi dari Kabupaten Batu Bara. Paling-paling Pak SS Sijabat (Direktur Produksi) itu pun kalau mau disebut mewakili Sumatera Utara,” lontar Azrin Marydha.
Ia menambahkan, sebagai wartawan yang sejak 1979 sampai sekarang kerap mengikuti kunjungan dan melakukan liputan tentang PT Inalum sejak masa pembangunannya, bahkan ikut meliput peletakan batu sendi utama dan pembukaan bendungan Siruar di Tapanuli Utara (sekarang masuk wilayah Toba Samosir) dahulu, banyak warga Batu Bara menggangap ia mengetahui banyak tentang Inalum dan menjadikannya tempat bertanya. Padahal tentu saja ia tidak tahu isi dalam Inalum.
“Salah satu pertanyaan yang sering disampaikan ke saya adalah, mengapa perusahaan raksasa Inalum yang berada di Kabupaten Batu Bara tetapi terkesan begitu sulit bagi putera-puteri Batu Bara untuk masuk menjadi karyawannya?” tanya Azrin sembari berharap ke depan ada kebijakan yang dirasakan berpihak kepada masyarakat khususnya generasi muda Batu Bara.
Azrin juga mengakui banyaknya sudah dana PKBL dan CSR yang disalurkan Inalum kepada bagian-bagian masyarakat Batu Bara (dan kabupaten lainnya di Sumatera Utara), bahkan bantuan ini sampai ke provinsi-provinsi luar Sumatera Utara. Namun sebagai putera Batu Bara ia focus melihat dari sisi kabupaten kelahirannya, yang ternyata masih ada keluhan bahwa masih banyak desa-desa di sana belum merasakan bantuan tersebut, padahal dana yang disalurkan besarnya cukup luar biasa.
Azrin menyebut bahwa ia hanya bertanya, mengungkapkan keluhan-keluhan yang saya serap dari kalangan masyarakat Batu Bara sendiri. Soal bagaimana kondisi sebenarnya, tentu pihak Inalum yang mengetahui.
Oggy Achmad Kosasih saat menjawab mengapa tidak ada putera Batu Bara di jajaran pimpinan Inalum menyebutkan, pemilihan atau pengangkatan jajarna pimpinan perusahaan tersebut bukan berada di jajarannya, melainkan dari pemegang saham. Lalu ia mengilustrasikan bahwa dirinya sendiri adalah putera seorang tentara seorang pilot pesawat Angkatan Udara yang di tahun 1960an saat terjadi konfrontasi Indonesia-Malaysia ayahnya menerbangkan pesawat dari Batu Bara ke Malaysia.
Atas penjelasan ini, Azrin nyeletuk, “Tapi itu bukan (mengartikan) putera Batu Bara,” yang disambut tertawa oleh Oggy dan grrr… dari hadirin lainnya.
Direktur Produksi SS Sijabat menambahkan penjelasan, dengan antara lain mengungkapkan bahwa dirinyapun setelah sekitar 20 tahun menjadi karyawan PT Inalum baru mencapai kedudukan seperti sekarang. Soal sedikitnya warga Batu Bara yang berhasil masuk dalam penerimaan karyawan Inalum, menurutnya, disebabkan adanya standard nilai kelulusan dalam ujian penerimaan. “Padahal, standard nilai kelulusan sudah diturunkan, tapi itu pun yang lulus masih banyak dari Medan,” ungkapnya.
Menurut Direktur Umum & Human Capital Carry Mumbunan, hal ini tetap menjadi perhatian ke depan. Misalnya dengan cara peningkatan pendidikan atau pelatihan, sehingga kemampuan yang dimiliki dapat memenuhi standard kebutuhan perusahaan.
“Aspirasi ini akan menjadi perhatian kami, dan akan kami sampaikan ke atas,” tambah pula Oggy Achmad Kosasih. (mar)

Recommended For You


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *