DKP PWI Sumut Gelar Sosialisasi Pers, Terapkan Jurnalisme Berbasis HAM Cegah Hoax

Photo: Para Anggota DKP PWI Sumut, Puket I STIK-P dan sebagian mahasiswa STIK-P peserta sosialisasi pendidikan pers 2018, foto bersama seusai kegiatan. (Foto: ist)

Medan- Berita bohong atau hoax menjadi salah satu masalah yang disoroti saat ini. Namun bagi pers Indonesia berita hoax sama sekali tidak mendapat tempat, sebab ada ketentuan dalam Kode Etik Jurnalistik khususnya Pasal 4 yang secara tegas melarang wartawan memberitakan berita bohong. Selain itu, penerapan jurnalisme berbasis HAM adalah penangkal utama untuk menghindari pemberitaan yang dapat merugikan hak pribadi seseorang.

Dua hal tersebut merupakan poin penting dalam kegiatan sosialisasi Pendidikan Pers 2018 berthema “Terapkan Jurnalisme Berbasis HAM” yang digelar Dewan Kehormatan Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia Sumatera Utara (DKP PWI Sumut) di kampus Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIK-P) Jalan Sisingamangaraja Medan, Selasa (27/3). Tampil dua pemateri dalam kegiatan tersebut yakni Ketua DK PWI Sumut Drs H Sofyan Harahap dan Sekretaris DK PWI Sumut H War Djamil SH.

Di depan 52 mahasiswa dan dosen STIK-P tersebut, War Djamil mengutarakan secara mendalam tentang pengertian dan arti penting dari penerapan jurnalisme berbasis HAM. Ia juga memberikan contoh dengan mengungkap beberapa pasal dari kode etik jurnalistik. Diharapkan kalangan kampus hendaknya semakin memahami jurnalisme berbasis HAM dan ketentuan-ketentuan dalam Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers No 40/1999 sehingga dapat turut mencegah menyebarnya berita hoax dengan cara turut mengamati dan melaporkan ke pihak berwajib apabila mengetahui adanya berita hoax.

“Para pengelola media juga diharapkan memberi perhatian yang besar dalam penerapan jurnalisme berbasis HAM. Jika saat ini masih ada kecaman public terhadap media, itu membuktikan ada pemberitaan yang melanggar HAM. Saatnya pers nasional makin dewasa dalam hal ini,” ujar War Djamil yang juga Wakil Pemimpin Redaksi Harian Analisa.

Untuk itu, ia mengimbau pers nasional tetap berlandaskan pada nilai-nilai profesionalisme yang mengacu pada KEJ, akurat serta melakukan self-censorship sebelum berita disiarkan.

Ketua DKP PWI Sumut Drs Sofyan Harahap dalam kesempatan itu memaparkan tentang Pasal 4 Kode Etik Jurnalistik yang berbunyi wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong. Berita bohong atau hoax menjadi salah satu poin krusial yang jika pelakunya seorang wartawan, maka hal itu termasuk dalam pelanggaran berat.

“Di Hari Pers Nasional (HPN), Presiden Jokowi berulang kali mengeluhkan tentang hoax. Berita yang benar di media mainstream bisa tenggelam kalau berita hoax terus berseliweran di lini masa kita dan itu membahayakan bagi masyarakat maupun bangsa,” ungkapnya.

Ia juga menyebutkan, sangat banyak informasi hoax yang menyesatkan beredar bebas. Untuk itu, masyarakat harus cerdas dan memahami ciri-ciri berita hoax. Di antara ciri-ciri tersebut, dijelaskannya, yakni judul yang menghebohkan dan bombastis dan narasumber yang tidak jelas sementara isinya tidak mengandung kebenaran.

“Masyarakat harus peka dan wajib curiga terhadap informasi. Para jurnalis di dunia sudah membuat tahapan reporting yang baku, yaitu ada cek dan ricek. Itu kunci kita untuk menghadapi informasi yang tidak benar,” ujarnya.

Ia juga mengimbau agar para mahasiswa tidak ikut menyebarkan berita hoax. Jika menemukan berita yang meragukan, lebih baik dibicarakan terlebih dahulu dengan pakar dan memastikan berita tersebut benar atau tidak.

Sebelumnya, dalam kata sambutannya Anggota DKP PWI Sumut Azrin Marydha menjelaskan, kegiatan yang dilaksanakan ini merupakan program kerja  DKP PWI Sumut pada priode berjalan. Sebelumnya kegiatan serupa telah dilangsungkan di beberapa tempat antara lain di FISIP USU dan UMSU, sedangkan setelah ini akan menyusul kegiatan serupa di kampus STIM Sukma Jalan Sakti Lubis Medan.

“Dengan kegiatan ini DKP PWI Sumut berharap kalangan masyarakat khususnya para mahasiswa peserta dapat semakin memahami berbagai ketentuan dalam dunia pers Indonesia, sehingga dapat turut memberikan koreksi apabila mengetahui ada pemberitaan yang tidak sesuai ketentuan di media massa,” ujar Azrin Marydha pada kegiatan yang juga dihadiri Anggota DKP PWI Sumut lainnya Nurhalim Tanjung.

Sedangkan Pembantu Ketua I (Puket I) STIK-P Austin Tumengkol dalam kata sambutannya menyebutkan, program ini sangat baik agar mahasiswa STIK-P dapat menambah ilmu dan wawasan tentang jurnalisme. “Dan ini sangat tepat bagi mahasiswa STIK-P yang mempelajari ilmu komunikasi,” ujarnya. (ril)

Recommended For You


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *