Asian Agri Targetkan Tahun Depan Capai Program Kemitraan Seluas 100.000 Ha Lahan Kelapa Sawit

Foto: Para petinggi Asian Agri Grup, Pengurus PWI Sumut dan insan pers foto foto bersama kami acara buka puasa bersama di gedung Uniland Medan, Selasa 22 Mei 2018. (Foto: ist)

Medan – Asian Agri Grup, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industry kelapa sawit, berkomitmen kuat untuk mewujudkan program “One to One” yakni keluasan kebun sawit dengan rasio “satu banding satu” antara milik Asian Agri sendiri dengan lahan kebun sawit petani binaan dan kebun swadaya masyarakat dalam program kemitraan.

Sampai akhir 2017, Asian Agri memiliki lahan kebun kelapa sawit seluas 100.000 Ha, sementara kebun sawit dalam program kemitraan sudah mencapai 91.000 Ha terdiri dari kebun sawit plasma yang dimiliki petani binaan mencapai 60.000 Ha dan kebun masyarakat petani sawit pada program kemitraan swadaya sudah mencapai 31.000 Ha.

“Sampai akhir tahun depan ini, kita harapkan pgoram “One to One” dapat tercapai, yaitu dengan target kebun masyarakat petani sawit dalam program kemitraan swadaya mencapai 40.000 Ha sehingga jumlah pada program kemitraan ini menjadi 100.000 Ha,” ungkap Head Operation Asian Agri Grup Bukit Sanjaya saat menyampaikan kata sambutan pada acara buka puasa bersama Asian Agri Grup dengan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Sumatera Utara (PWI Sumut) di Genung Uniland Medan, Selasa (22/5/2018).

Bukit Sanjaya yakin target ini dapat tercapai, karena sisa luas lahan yang dibutuhkan dalam program kemitraan ini tinggal 9.000 Ha lagi. “Keluasan 9.000 Ha itu bukanlah hal yang sulit untuk dicapai dalam setahun ini, kami yakin dapat dicapai sehingga luas lahan milik Asian Agri dengan milik mitra petani sawit plasma dan swadaya sama-sama 100.000 Ha, atau satu berbanding satu,” ujarnya.

Ia mengatakan, komitmen kuat Asian Agri Grup ini tidak lepas dari kesungguhan dalam membantu program pemerintah dalam peningkatan perekonomian rakyat. Saat ini katanya, industry kelapa sawit telah menjadi komoditas utama dunia dan merupakan sumber perekonomian utama bagi Indonesia.

“Sudah saatnya kita mendukung pengembangan kelapa sawit sebagai priduksi utama nasional,” tambah Bukit Sanaja pada acara yang juga dihadiri sejumlah petinggi Asian Agri Grup antara lain Herlanto Tanoto dari Sukanto Tanoto Fondation, Head Corporate M Fadhil Hasan, Mgr Communication Dinna, Head Social Security & License Ariston Noferry Fau dan lainnya termasuk Humas Lidya Veronika, sementara dari jajaran PWI Sumut hadir antara lain Ketua H Hermansjah SE, Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) Sofyan Harahap, Anggota DKP Azrin Marydha, Penasehat H Ronny Simon beserta sejumlah pengurus lainnya dan sejumlah Pemimpin Redaksi media cetak, elektronik maupun media online.

KESEJAHTERAAN PETANI

Sementara itu Head Coorporate Asian Agri M Fadhil Hasan menambahkan, salah satu program Asian Agri juga mendukung program pemerintah dalam peremajaan kelapa sawit rakyat, termasuk di Sumut. Program ini tidak lepas dari upaya untuk meningkatkan kesejahteraan petani sawit.
Kelapa sawit merupakan salah satu industri strategis terbesar di Indonesia dan merupakan penyumbang devisa terbesar sekaligus penyerap tenaga kerja yang besar. Pengembangan kebun kelapa sawit merupakan pendorong bagi perekonomian daerah, yang dapat mengurangi ketimpangan pembangunan antara Pulau Jawa dengan luar Pulau Jawa. Sebab di Pulau Jawa kebun kelapa sawit sedikit, sedangkan yang terbesar berada di luar Pulau Jawa terutama di Sumut.

Di Indonesia saat ini terdapat kebun kelapa sawit seluas 12 juta Ha dengan produksi mencapai 26 juta ton per tahun, menurut data tahun 2017. Indonesia telah menjadi eksportir sawit terbesar di dunia dan sumber produksinya didominasi oleh Sumut.
Namun demikian, berhasilnya sawit menjadi sumber dominan minyak nabati di dunia justru menjadi kekhawatiran oleh produksi minyak nabati lainnya seperti bunga matahari, repsit, kedelei dan lain lain.
Selain itu sawit juga sudah berperan sebagai sumber energi terbarukan, sehingga dapat menjadi alternatif pengganti energi seperti premium dan solar yang diperkirakan bakal habis.
Jadi, sawit di satu sisi merupakan peluang untuk meningkatkan perekonomian, tetapi di sisi lain adalah tantangan sebab menjadi saingan bagi sumber minyak nabati lainnya. “Sebab sawit pruksinya sangat tinggi, lahan sangat luas dan harga murah,” tukas Fadhil.
Menurutnya ada dua cara untuk mengatasinya, yaitu pertama, adalah dengan menunjukkan bahwa industri sawit tidak menyebabkan deforestrasi (penggundulan hutan), matinya orang hutan, harimau, gajah dan sebagainya seperti dituduhkan pihak tertentu secara internasional. Kedua, kita harus membuktikan bahwa sawit tidak akan habis dan akan terus berkembang sampai sejauh mana yang diperlukan.
“Asian Agri menyadari dirinya merupakan bagian yang bisa menjelaskan kepada masyarakat dunia, bahwa pengelolaan sawit memenuhi standar industri yang berkelanjutan,” ujarnya.
Untuk itu Asian Agri juga perlu melakukan edukasi kepada publik termasuk bermitra dengan media, untuk menginformasikan kepada dunia bahwa Asian Agri memenuhi prinsip-prinsip pengelolaan industri yang berkelanjutan.

Fadhil juga menegaskan, Asian Agri memiliki komitmen kuat dalam program kemitraan dengan petani-petani sawit rakyat. Selama ini karena ketidaktahuan, banyak petani menanam kelapa sawit dengan bibit palsu atau tidak bagus.

“Pemerintah tengah memprogramkan peremajaan kelapa sawit. Asian Agri ikut berperan menyukseskannya, dengan bibit yang baik seperti dari Topaz produksi dapat meningkat menjadi 3 sampai 4 ton/Ha/bulan, sehingga dapat meningkatkan perekonomian petani,” katanya sembari menyebutkan, tidak banyak perusahaan yang mempunyai komitmen kemitraan seperti Asian Agri.

Pada acara yang juga diisi tausyiah menjelang berbuka oleh Al Ustadz Amirul Khoir tersebut, Ketua PWI Sumut H Hermansjah SE dalam kata sambutannya mengapresiasi positif kemitraan yang dibangun oleh Asian Agri. “Melihat perkembangan teknologi Asian Agri, kami juga merasa berbangga hati, apalagi Asian Agri punya kebun yg luas dan tersebar di berbagai provinsi termasuk di Sumut,” ujarnya.

Herman juga berharap Asian Agri ke depan tetap meningkatkan kemitraan dengan PWI Sumut, seperti yang telah terjalin sejak bertahun-tahun lalu. Dalam hal ini, Asian Agri diharapkan turut pula berperan dalam pemberhasilan program PWI dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia para wartawan, terutama dalam pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) yang dilaksanakan PWI Sumut secara berkala. (am)

Recommended For You


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *